Tak Ada Salahnya “Di Rumah Aja”
Memang ada dalil yang manganjurkan kita jalan-jalan untuk menyaksikan kebesaran Allah, tapi juga tak ada larangan untuk gak kemana-mana.
Saya adalah tipe orang yang impiannya itu menjelajah seluruh negeri dan kalau bisa sampai ke negara-negara lain. Dunia ini memang indah sekali. Tapi praktiknya, saya lebih sering di rumah, nonton film, TV series, dan tentu saja YouTube.
Baru beberapa menit lalu setelah saya menonton video-video mengerikan, saya jadi mikir lagi; kayaknya gak ada salahnya untuk di rumah aja.
Dengan di rumah aja, kita terhindar dari banyak kemungkinan mara bahaya. Memang tak ada yang bisa menjamin akan selalu aman jika berada di rumah saja. Musibah bisa datang dari manapun.. Lagi tidur tiba-tiba gempa dan rumah rubuh juga bisa. Yang rumahnya di daerah pegunungan bisa kapan saja kena longsor atau banjir bandang, dsb…
Tapi kalau menghitung kemungkinan, apakah keluar menjelajah dunia itu lebih tinggi kemungkinan kena bahaya?
Jawabannya mungkin tergantung rumahnya juga ya ada di mana.
Menimbang saya sekarang berada di daerah Riau, kemungkinan paling mungkin musibah antara lain; gempa, kebakaran, dan musibah lain yang disebabkan manusia.
Sedangkan kalau keluar rumah, di jalanan lintas Sumatra itu sekarang sudah sangat padat. Mobil-mobil travel banyak yang ngebut, truk jumlahnya lebih banyak dari mobil pribadi, dsb.. Tambah kondisi jalan yang lebih banyak gak mulusnya dibanding yang mulus.
Banyak sekali berita kecelakaan di jalanan lintas Sumatra.
Tapi kadang musibah itu datang tak disangka. Waktu itu ada salah satu anggota keluarga kerabat lah ya, meninggal karena mobilnya masuk sungai kanal, dua orang di dalam tak sempat keluar mobil dan terjebak lalu meninggal.
Kalau kita pikirkan, mungkin tak ada yang berpikir seseorang bisa meninggal dengan cara seperti itu. Tapi faktanya, bisa saja.
Sebab awal, mobil diperkirakan kehilangan kendali, bisa jadi akibat kondisi jalan juga. Hmm…
Saya beberapa hari terbayang-bayang terus setelah kejadian ini, buat saya, kejadian ini agak mengerikan dan saya kaget bahwa kejadian yang biasanya saya lihat di film, ternyata terjadi ke orang yang bisa dibilang saya kenal.
Oh iya, dalam 3 tahun terakhir, saya juga sempat mengalami ditabrak truk hingga saya masuk ke kolong dan sempat terpikir bahwa; it’s the end of my life. Alhamdulillah selamat…
Saya juga sempat nabrak tumpukan sampah pasar karena ada mobil parkir dengan lampu dihidupkan di sebelah kiri jalan menghadap lawan arah, asli waktu itu pengen mengumpat “gblooook bgt sih anda!!!!” tapi saya cari aman lah. Waktu itu sekitar waktu menjelang subuh di daerah orang saat saya melakukan perjalanan motor sendirian sejauh 1750 Km dari Jogja ke Riau. Akibat silau dan posisi parkir yang gblok banget, bikin saya cari aman ibaratnya menjatuhkan diri dibanding nabrak sesuatu yang lebih berakibat fatal. Faktanya, ternyata itu di jembatan juga. Jadi, nabrak tumpukan sampah itu udah sangat beruntung.
Anyway, walau menjelajah dunia itu bayak resikonya, tapi mungkin apa yang kita dapatkan juga sebanding. Asalkan kita bisa menghitung berbagai hal agar tak mengalami kejadian yang berbahaya.
Kesalahan saya yang nabrak tumpukan sampah itu karena saya riding sebelum subuh. Entah kenapa, ini jam yang emang rawan banget. Lebih baik berhenti dulu di jam-jam 2-3an dan lanjut abis subuh.
Yang saya ditabrak truk, entahlah, korbannya juga bukan cuma saya, cuma saya yang paling apes. Di lain waktu, mungkin dalam posisi tsb, saya akan lebih waspada dan lihat belakang kalau tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan begitu. Dasarnya memang apes karena si truk itu katanya rem blong.
Untuk perjalanan dengan mobil, memang sepertinya lebih aman masuk tol, walaupun tak ada yang menjamin.
Intinya; jaga kecepatan agar tak terlalu ngebut, tapi juga tak terlalu pelan… Ya ideal aja lah…
Biasanya, kalau ada kecelakaan tapi gak terlalu ngebut, ya korbannya biasanya cuma kendaraan yang ringsek dikit, penumpang aman.
Beda lagi kalau truk yang bikin musibah, duh, kendaraan berat walau gak ngebut juga dampaknya bisa sangat fatal.
Kalau dirasa-rasa lebih baik berhenti dulu, maka berhentilah dulu, istirahat dulu, jangan memaksakan ketika insting kita sudah ngasih tanda.
Jangan memaksakan diri ini penting banget sih. Tapi sayangnya gak berlaku untuk semua jenis kendaraan dan keuangan.
Santai itu bisa banget, tapi kadang harus keluar uang lebih untuk penginapan dan makanan, minuman, plus jajanan. Padahal memaksakan pulang dengan kondisi yang lelah juga berbahaya.
Apalagi seringnya penumpang pengennya cepat sampai rumah. Akhirnya ya begitulah….
Resiko besar seringnya juga memberikan reward yang besar. Meskipun resiko di luar rumah itu banyak, tapi pengalaman yang didapatkan juga bisa terkenang hingga kita mati.
Tapi kalau mau di rumah aja juga menurut saya gak ada salahnya. Menikmati dunia dari layar ponsel, laptop, ataupun TV juga bisa sangat menyenangkan. Plus irit dan bisa sambil santai di rumah ditemani teh, kopi, dan jajanan.
Tak selamanya yang menyenangkan itu harus keluar rumah. Apalagi buat orang-orang seperti saya yang introvert, bisa santai di rumah itu sesuatu yang mungkin lebih berharga dari banyak hal lainnya.

